COOL - February week 2

COOL - February week 2

MENJADI MANUSIA BARU DI PERMULAAN YANG BARU

Tahun 2018 adalah Tahun Permulaan Yang Baru. Sesuai dengan tuntunan TUHAN melalui Gembala Sidang/Pembina, salah satu pengertian dari permulaan yang baru adalah PERUBAHAN. Perubahan adalah sebuah kata yang umum kita dengar, mudah untuk diucapkan, namun tidak mudah untuk dilakukan atau dialami  karena orang sudah terbiasa dengan yang lama. Perubahan adalah sebuah proses pembentukan.

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Korintus 5:17)

Berkaitan dengan perubahan menjadi ciptaan baru, ada 3 (tiga) hal penting yang harus dipegang dengan baik:

1.    Menjadi ciptaan baru berarti tidak boleh lagi menggunakan sifat lama (perbuatan daging).

 Ayat diatas secara jelas memberikan penegasan kepada kita bahwa sebagai ciptaan baru, yang lama telah berlalu. Apa itu yang lama? Sifat-sifat buruk masa lalu, keinginan daging, kebiasaan-kebiasaan yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan seperti yang tertulis dalam Galatia 5:19-2-a "Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya."

Di dalam KRISTUS, ALLAH menjadikan kita ciptaan yang baru, tetapi adalah tanggung jawab dan bagian kita untuk hidup sesuai dengan status baru kita di dalam DIA. Karenanya kita harus jaga hidup kita sungguh-sungguh sesuai dengan Firman Tuhan. Hidup kudus dan berkenan di hadapan-Nya.

 2.    Tidak menjadi ciptaan baru berarti tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah

 Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu — seperti yang telah kubuat dahulu — bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah." (Galatia 5:21-b).

Perubahan menjadi ciptaan baru, meninggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru dalam KRISTUS adalah suatu keharusan. Jangan berpikir bahwa karena perubahan itu tidak mengenakan maka anda bisa memilih untuk tidak mengalami perubahan itu. Resiko dan harganya terlalu mahal. Sebab Alkitab berkata, mereka yang tidak meninggalkan cara hidup yang lama yang dikuasai oleh perbuatan daging TIDAK AKAN MENDAPAT BAGIAN DALAM KERAJAAN ALLAH, alias masuk neraka.

 3.    Ciptaan baru akan mengalami proses terus menerus sampai menjadi serupa dengan gambaran KRISTUS.

 Menjadi ciptaan baru bukanlah tujuan akhir, sebab perubahan itu akan terus terjadi. Untuk hidup kudus kita akan diproses terus menerus dengan Firman Allah dan oleh Roh Kudus sehingga menjadi serupa dengan gambar KRISTUS. Mereka yang menjadi serupa dengan gambar KRISTUS akan mengalami pemuliaan (Glorification) dan ikut dalam pengangkatan.

Proses yang terus menerus ini tentunya memerlukan ketekunan iman, daya tahan dan daya juang yang kuat. Secara manusia kita tidak mampu, tapi ROH KUDUS memberikan kita kekuatan dan kemampuan. Karenanya hiduplah senantiasa dalam pengurapan serta penuh dengan ROH KUDUS.

Amin.

 

COOL - February week 1

DISISI MANA ANDA BERADA?

Salah satu pengertian dari permulaan yang baru adalah PEMISAHAN. Kalau kita membaca dalam Kejadian 1:3-5, pada hari pertama penciptaan, dalam permulaan yang baru, TUHAN menciptakan terang dan memisahkan terang dari gelap.

“Berfirmanlah Allah: "Jadilah terang." Lalu terang itu jadi. Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap. Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama.”

Pesan TUHAN melalui Gembala Sidang/Pembina kita bahwa Tahun 2018 akan terjadi pemisahan antara orang yang hidupnya dalam terang dan orang yang hidupnya dalam gelap.

Berkaitan dengan PEMISAHAN di Tahun Permulaan yang baru ini, dua hal penting yang perlu kita sadari adalah :

1. Pemisahan akan nampak jelas sebab TUHAN membuat perbedaan.

“Maka kamu akan melihat kembali perbedaan antara orang benar dan orang fasik, antara orang yang beribadah kepada Allah dan orang yang tidak beribadah kepada-Nya.” (Maleakhi 3:18)

Perkataan "kamu akan melihat kembali perbedaan", artinya perbedaan itu akan nampak dengan nyata dan tegas. Perbedaan yang dimaksud disini adalah perbedaan cara TUHAN memperlakukan orang benar dan orang fasik, memperlakukan orang yang beribadah kepada TUHAN dan yang tidak beribadah kepada-Nya.

Orang benar dan orang yang beribadah kepada TUHAN pasti memperlakukan TUHAN dengan hormat, takut akan TUHAN, mengasihi TUHAN. Terhadap orang-orang yang seperti ini DIA pasti memperlakukan dengan cara yang baik dan penuh kasih. Sebaliknya orang fasik yang sombong dan menganggap ALLAH tidak ada (Mazmur 10:4) akan mendapat perlakuan setimpal dengan perlakuannya terhadap ALLAH.

"Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela Engkau berlaku tidak bercela, terhadap orang yang suci Engkau berlaku suci, tetapi terhadap orang yang bengkok Engkau berlaku belat-belit." (Mazmur 18:26-27)

2. Pemisahan menuntut respon dan kedewasaan kita.

“Barangsiapa yang berbuat jahat, biarlah ia terus berbuat jahat; barangsiapa yang cemar, biarlah ia terus cemar; dan barangsiapa yang benar, biarlah ia terus berbuat kebenaran; barangsiapa yang kudus, biarlah ia terus menguduskan dirinya!" Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya” (Wahyu 22:11-12)

Saat kita masih kanak-kanak dan melakukan suatu pelanggaran atau tindakan yang tidak sopan, orangtua secara langsung dan tegas mengajari kita bahkan memberikan hukuman agar kita menyadari kesalahan kita dan tidak mengulanginya lagi. Tapi saat kita bertumbuh dewasa, orang tua kita mengajarkan bahwa kita adalah orang dewasa dan bertanggung jawab atas apa yang menjadi perbuatan kita, baik atau buruk.

Menjelang kedatangan TUHAN YESUS yang kedua kali, TUHAN memperlakukan kita seperti orangtua kepada anaknya yang sudah dewasa. TUHAN sudah banyak mengajar, menegur. Tiba saatnya dimana TUHAN sepertinya 'membiarkan', menyerahkan kepada masing-masing kita. Yang jahat biar terus berbuat jahat, yang cemar terus berbuat cemar, yang benar terus berbuat kebenaran dan yang kudus terus menguduskan dirinya.

Namun satu hal yang pasti : TUHAN datang kembali membawa upah dan membalaskan kepada masing-masing orang sesuai dengan perbuatannya.

PEMISAHAN pasti terjadi. Pertanyaannya, ada disisi manakah Anda berada?

 

COOL - January week 3

SIKAP YANG BARU

"Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang," -- 2 Korintus 5:17

    TUHAN memberikan visi kepada kita untuk tahun 2018 adalah "Tahun Permulaan yang Baru" dengan mengambil ayat 2 Korintus 2:17.  Saat kita membaca keseluruhan konteks 2 Korintus 5, maka kita mendapati bahwa Alkitab mengajarkan kita bahwa sudah sepatutnyalah kita memiliki sikap, hati dan perilaku yang berbeda setelah kita menerima Kristus sebagai TUHAN dan Juruselamat pribadi, dibandingkan dengan sebelum kita menerima-Nya.  Paulus mengingatkan bahwa kehidupan kita yang lama yang rusak karena dosa, telah ditebus oleh Kristus melalui pengorbanan-Nya.  

    Itulah sebabnya ada hal-hal yang harus kita tinggalkan dalam hidup kita, yaitu kelakuan-kelakuan yang tidak pantas sebagai anak-anak TUHAN.  Apa saja?

1.  Tinggalkanlah: Berkeluh kesah atas "penderitaan" hidup (2 Kor 5:1-10)

    Firman TUHAN memang menjelaskan bahwa selama kita masih menggunakan tubuh jasmani di dunia ini, kita mengeluh karena beratnya tekanan hidup yang kita hadapi.  Namun firman yang sama mengingatkan kita agar kita tidak menjadi terfokus pada hal ini, tetapi nantikanlah bahwa kelak kita akan menggunakan tubuh yang lebih mulia, yang bebas dari segala kesusahan.  Inilah pengharapan, kekuatan dan penghiburan atas segala tekanan yang kita hadapi dalam hidup.  TUHAN menginginkan agar kita tidak berfokus pada masalah tubuh, tetapi lebih hidup oleh karena Roh.  Penderitaan yang kita hadapi bisa saja justru maksud TUHAN untuk mempersiapkan kita pada kehidupan kekal; tidak bergantung pada tubuh jasmani. Itulah sebabnya dikatakan Roh Kudus dikaruniakan kepada agar kita kuat menurut Roh dan sebagai jaminan bagi kita.  Roh Kudus dalam hidup kitalah yang membuat kita tabah menghadapi apapun persoalan hidup kita.


2. Tinggalkanlah: Mencari penilaian dan pujian manusia (2 Kor 5:11-20)
    
    John Maxwell pernah berkata bahwa syarat untuk menjadi sukses itu banyak, namun untuk menjadi gagal hanya satu: berusaha menyenangkan semua orang.  Banyak manusia mengalami kesusahan dalam dirinya justru karena ingin membuat orang lain senang.  Dibalik upaya tersebut sebenarnya bukanlah suatu kebaikan tetapi motivasi terselubung yaitu ingin dinilai baik, ingin diterima berbagai orang dan ingin mendapat pujian dari banyak orang.  Rasul Paulus dalam teks ini mengingatkan bahwa motivasi kita melakukan kebaikan, motivasi kita saat melayani sesama adalah bukan karena ingin mendapatkan balasan kebaikan dan dilayani, tetapi oleh karena Kristus yang kita sembah sudah terlebih dahulu memberikan kebaikan dan pelayanan kepada kita.  Sebagaimana Kristus sudah memberikan yang terbaik kepada kita, maka sekarang kita juga harus memberikan yang terbaik kepada sesama kita, terlebih jemaat, tanpa mengharapan apapun.  Ingatlah bahwa sekalipun Yesus disalib dan dihina, Ia tetap memberikan yang terbaik, yaitu nyawa-Nya, karena Ia mengasihi kita dan ingin agar kita diperdamaikan dengan Allah Bapa.  Sekarang pelayanan yang sama pun dipercayakan kepada kita, yaitu untuk membawa banyak jiwa-jiwa bertemu dan berdamai dengan Allah.


3. Tinggalkanlah: menilai dengan standar manusia (2 Korintus 5:16)

    Pesan yang sederhana bagi kita semua yang telah menerima dan hidup dalam anugrah keselamatan Kristus: pandanglah segala sesuatu dengan cara Kristus memandang.  Janganlah lagi kita menilai dan bertindak menghadapi suatu masalah berdasarkan apa yang dunia katakan, atau adat-istiadat tentukan tetapi hiduplah sebagai Kristus telah hidup, pandang dan timbanglah sebagaiman Kristus memandang dan hiduplah senantiasa di dalam kepenuhan Roh dan berdasarkan Firman-Nya.  Tinggalkan gaya hidup kita yang lama dan mari jalani kehidupan ini sebagai pribadi yang telah diperbaharui oleh Kristus. Amin! (CS)

COOL - January week 2

NEW YEAR, NEW GENEROSITY

Selamat Tahun Baru 2018, Tahun Permulaan-Permulaan Yang Baru. Berbicara tentang tahun baru, ada banyak cara kita untuk memasukinya. Sebagian besar melakukan perayaan ucapan syukur, kumpul keluarga, bersukacita bersama. Sebagian lagi menyambutnya dengan khidmat, merenung, evaluasi diri, refleksi dan membuat resolusi. Ada juga yang memadukan keduanya.

Bagaimanapun cara kita menyambutnya, memasuki tahun yang baru ini mari memiliki kemurahan hati yang baru (new generosity). Artinya memiliki tingkat kemurahan hati yang lebih lagi. Kalau di masa yang lalu mungkin masih ada yang ‘sulit’ dalam hal kemurahan hati, 

Kemurahan dalam bahasa Yunani disebut chrestotes, bahasa Latin disebut benignitas, dan bahasa Inggris disebut kindness. Benignity artinya perbuatan baik yang nyata, kelembutan dalam berlaku terhadap sesama dan bersikap penuh rahmat.

1.    Kemurahan hati adalah respos atas anugerah keselamatan dari Tuhan.
Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya. (Efesus 2:8-10).
Anugerah keselamatan adalah pemberian ALLAH. Itu adalah wujud kemurahan hati ALLAH. Kita yang harusnya binasa, ditebus dan diselamatkan, sebagai bentuk respon kita atas anugerah keselamatan itu adalah melakukan pekerjaan baik yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Pekerjaan baik yang dimaksud tentu harus dilakukan berlandaskan kemurahan hati, sebab murah hati adalah kasih yang ditunjukan dalam perbuatan.
Marilah kita bersyukur atas keselamatan yang TUHAN berikan dengan menunjukkan kemurahan hati.


2.    Kemurahan hati tak berdiam diri saat melihat orang yang membutuhkan.
Murah hati berarti mau terlibat dalam penderitaan orang lain karena tak kuasa meninggalkannya.
TUHAN YESUS memberikan contoh yang sangat gamblang berkaitan dengan kemurahan hati ini. Dalam Lukas 10:30-35, tentang kisah orang samaria yang baik hati. Bagaimana orang Samaria tanpa melihat perbedaan, tanpa takut merasa direpotkan atau dirugikan, langsung menolong saat melihat ada orang tergeletak nyaris mati karena dirampok.
Sudahkah kita menunjukkan kemurahan hati seperti orang Samaria yang baik hati? Masuk 2018, mari kita dengan giat melakukannya.

3.    Kemurahan hati itu kesediaan untuk menerima dan memaafkan.
Dalam Surat Rasul Paulus kepada Filemon, kita melihat bagaimana kemurahan hati Filemon untuk memaafkan Onesimus, budaknya yang telah merugikannya, melarikan diri dan kemungkinan bertemu dengan Rasul Paulus dalam penjara, kemudian bertobat. Filemon bukan hanya memaafkan Onesimus, bahkan menerima Onesimus kembali, kali ini bukan sebagai budak lagi, melainkan sebagai saudara kekasih di dalam TUHAN YESUS (Filemon 1:10-17).
Ini adalah wujud kemurahan hati dalam memaafkan dan menerima kembali. Kalau sampai hari ini, ada diantara Jemaat yang masih menyimpan dendam, kepahitan dan kekecewaan terhadap orang lain, sekarang saatnya untuk melepaskan pengampunan dan menerima kembali.

4.    Latihan Kemurahan hati adalah dengan memberi.
Memberi adalah praktek sederhana dan mudah dari kemurahan hati. Mustahil orang berkata rela mengorbankan nyawanya bagi orang lain kalau uangnya saja tidak rela dikorbankan. Ada beberapa contoh kemurahan hati dalam memberi yang ditunjukkan Alkitab, yakni janda miskin yang mempersembahkan seluruh nafkahnya serta jemaat di Makedonia.

“Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit. Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.” (Markus 12:41-44)

Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia. Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan. Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka. Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus. (2 Korintus 8:1-4).

Di awal tahun 2018 ini kita kembali diingatkan tentang Persembahan Buah Sulung, yakni seluruh penghasilan yang kita terima di bulan Januari untuk kita persembahkan di awal Februari. Spirit dari buah sulung ini adalah seperti janda miskin yang mempersembahkan semua yang ada padanya, yakni seluruh nafkahnya. Dan juga seperti jemaat di Makedonia yang memberi melampaui kemampuan mereka. Manfaat dari buah sulung adalah mematahkan roh cinta akan uang yang merupakan akar dari segala kejahatan. Selain itu tentunya TUHAN mencurahkan berkat-Nya dengan limpah. Mari kita persiapkan dan bawa persembahan sulung kita.

“Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu, maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya.” (Amsal 3:9-10)