NEW YEAR, NEW GENEROSITY

Selamat Tahun Baru 2018, Tahun Permulaan-Permulaan Yang Baru. Berbicara tentang tahun baru, ada banyak cara kita untuk memasukinya. Sebagian besar melakukan perayaan ucapan syukur, kumpul keluarga, bersukacita bersama. Sebagian lagi menyambutnya dengan khidmat, merenung, evaluasi diri, refleksi dan membuat resolusi. Ada juga yang memadukan keduanya.

Bagaimanapun cara kita menyambutnya, memasuki tahun yang baru ini mari memiliki kemurahan hati yang baru (new generosity). Artinya memiliki tingkat kemurahan hati yang lebih lagi. Kalau di masa yang lalu mungkin masih ada yang ‘sulit’ dalam hal kemurahan hati, 

Kemurahan dalam bahasa Yunani disebut chrestotes, bahasa Latin disebut benignitas, dan bahasa Inggris disebut kindness. Benignity artinya perbuatan baik yang nyata, kelembutan dalam berlaku terhadap sesama dan bersikap penuh rahmat.

1.    Kemurahan hati adalah respos atas anugerah keselamatan dari Tuhan.
Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya. (Efesus 2:8-10).
Anugerah keselamatan adalah pemberian ALLAH. Itu adalah wujud kemurahan hati ALLAH. Kita yang harusnya binasa, ditebus dan diselamatkan, sebagai bentuk respon kita atas anugerah keselamatan itu adalah melakukan pekerjaan baik yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Pekerjaan baik yang dimaksud tentu harus dilakukan berlandaskan kemurahan hati, sebab murah hati adalah kasih yang ditunjukan dalam perbuatan.
Marilah kita bersyukur atas keselamatan yang TUHAN berikan dengan menunjukkan kemurahan hati.


2.    Kemurahan hati tak berdiam diri saat melihat orang yang membutuhkan.
Murah hati berarti mau terlibat dalam penderitaan orang lain karena tak kuasa meninggalkannya.
TUHAN YESUS memberikan contoh yang sangat gamblang berkaitan dengan kemurahan hati ini. Dalam Lukas 10:30-35, tentang kisah orang samaria yang baik hati. Bagaimana orang Samaria tanpa melihat perbedaan, tanpa takut merasa direpotkan atau dirugikan, langsung menolong saat melihat ada orang tergeletak nyaris mati karena dirampok.
Sudahkah kita menunjukkan kemurahan hati seperti orang Samaria yang baik hati? Masuk 2018, mari kita dengan giat melakukannya.

3.    Kemurahan hati itu kesediaan untuk menerima dan memaafkan.
Dalam Surat Rasul Paulus kepada Filemon, kita melihat bagaimana kemurahan hati Filemon untuk memaafkan Onesimus, budaknya yang telah merugikannya, melarikan diri dan kemungkinan bertemu dengan Rasul Paulus dalam penjara, kemudian bertobat. Filemon bukan hanya memaafkan Onesimus, bahkan menerima Onesimus kembali, kali ini bukan sebagai budak lagi, melainkan sebagai saudara kekasih di dalam TUHAN YESUS (Filemon 1:10-17).
Ini adalah wujud kemurahan hati dalam memaafkan dan menerima kembali. Kalau sampai hari ini, ada diantara Jemaat yang masih menyimpan dendam, kepahitan dan kekecewaan terhadap orang lain, sekarang saatnya untuk melepaskan pengampunan dan menerima kembali.

4.    Latihan Kemurahan hati adalah dengan memberi.
Memberi adalah praktek sederhana dan mudah dari kemurahan hati. Mustahil orang berkata rela mengorbankan nyawanya bagi orang lain kalau uangnya saja tidak rela dikorbankan. Ada beberapa contoh kemurahan hati dalam memberi yang ditunjukkan Alkitab, yakni janda miskin yang mempersembahkan seluruh nafkahnya serta jemaat di Makedonia.

“Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit. Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.” (Markus 12:41-44)

Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia. Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan. Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka. Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus. (2 Korintus 8:1-4).

Di awal tahun 2018 ini kita kembali diingatkan tentang Persembahan Buah Sulung, yakni seluruh penghasilan yang kita terima di bulan Januari untuk kita persembahkan di awal Februari. Spirit dari buah sulung ini adalah seperti janda miskin yang mempersembahkan semua yang ada padanya, yakni seluruh nafkahnya. Dan juga seperti jemaat di Makedonia yang memberi melampaui kemampuan mereka. Manfaat dari buah sulung adalah mematahkan roh cinta akan uang yang merupakan akar dari segala kejahatan. Selain itu tentunya TUHAN mencurahkan berkat-Nya dengan limpah. Mari kita persiapkan dan bawa persembahan sulung kita.

“Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu, maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya.” (Amsal 3:9-10)