SIKAP YANG BARU

"Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang," -- 2 Korintus 5:17

    TUHAN memberikan visi kepada kita untuk tahun 2018 adalah "Tahun Permulaan yang Baru" dengan mengambil ayat 2 Korintus 2:17.  Saat kita membaca keseluruhan konteks 2 Korintus 5, maka kita mendapati bahwa Alkitab mengajarkan kita bahwa sudah sepatutnyalah kita memiliki sikap, hati dan perilaku yang berbeda setelah kita menerima Kristus sebagai TUHAN dan Juruselamat pribadi, dibandingkan dengan sebelum kita menerima-Nya.  Paulus mengingatkan bahwa kehidupan kita yang lama yang rusak karena dosa, telah ditebus oleh Kristus melalui pengorbanan-Nya.  

    Itulah sebabnya ada hal-hal yang harus kita tinggalkan dalam hidup kita, yaitu kelakuan-kelakuan yang tidak pantas sebagai anak-anak TUHAN.  Apa saja?

1.  Tinggalkanlah: Berkeluh kesah atas "penderitaan" hidup (2 Kor 5:1-10)

    Firman TUHAN memang menjelaskan bahwa selama kita masih menggunakan tubuh jasmani di dunia ini, kita mengeluh karena beratnya tekanan hidup yang kita hadapi.  Namun firman yang sama mengingatkan kita agar kita tidak menjadi terfokus pada hal ini, tetapi nantikanlah bahwa kelak kita akan menggunakan tubuh yang lebih mulia, yang bebas dari segala kesusahan.  Inilah pengharapan, kekuatan dan penghiburan atas segala tekanan yang kita hadapi dalam hidup.  TUHAN menginginkan agar kita tidak berfokus pada masalah tubuh, tetapi lebih hidup oleh karena Roh.  Penderitaan yang kita hadapi bisa saja justru maksud TUHAN untuk mempersiapkan kita pada kehidupan kekal; tidak bergantung pada tubuh jasmani. Itulah sebabnya dikatakan Roh Kudus dikaruniakan kepada agar kita kuat menurut Roh dan sebagai jaminan bagi kita.  Roh Kudus dalam hidup kitalah yang membuat kita tabah menghadapi apapun persoalan hidup kita.


2. Tinggalkanlah: Mencari penilaian dan pujian manusia (2 Kor 5:11-20)
    
    John Maxwell pernah berkata bahwa syarat untuk menjadi sukses itu banyak, namun untuk menjadi gagal hanya satu: berusaha menyenangkan semua orang.  Banyak manusia mengalami kesusahan dalam dirinya justru karena ingin membuat orang lain senang.  Dibalik upaya tersebut sebenarnya bukanlah suatu kebaikan tetapi motivasi terselubung yaitu ingin dinilai baik, ingin diterima berbagai orang dan ingin mendapat pujian dari banyak orang.  Rasul Paulus dalam teks ini mengingatkan bahwa motivasi kita melakukan kebaikan, motivasi kita saat melayani sesama adalah bukan karena ingin mendapatkan balasan kebaikan dan dilayani, tetapi oleh karena Kristus yang kita sembah sudah terlebih dahulu memberikan kebaikan dan pelayanan kepada kita.  Sebagaimana Kristus sudah memberikan yang terbaik kepada kita, maka sekarang kita juga harus memberikan yang terbaik kepada sesama kita, terlebih jemaat, tanpa mengharapan apapun.  Ingatlah bahwa sekalipun Yesus disalib dan dihina, Ia tetap memberikan yang terbaik, yaitu nyawa-Nya, karena Ia mengasihi kita dan ingin agar kita diperdamaikan dengan Allah Bapa.  Sekarang pelayanan yang sama pun dipercayakan kepada kita, yaitu untuk membawa banyak jiwa-jiwa bertemu dan berdamai dengan Allah.


3. Tinggalkanlah: menilai dengan standar manusia (2 Korintus 5:16)

    Pesan yang sederhana bagi kita semua yang telah menerima dan hidup dalam anugrah keselamatan Kristus: pandanglah segala sesuatu dengan cara Kristus memandang.  Janganlah lagi kita menilai dan bertindak menghadapi suatu masalah berdasarkan apa yang dunia katakan, atau adat-istiadat tentukan tetapi hiduplah sebagai Kristus telah hidup, pandang dan timbanglah sebagaiman Kristus memandang dan hiduplah senantiasa di dalam kepenuhan Roh dan berdasarkan Firman-Nya.  Tinggalkan gaya hidup kita yang lama dan mari jalani kehidupan ini sebagai pribadi yang telah diperbaharui oleh Kristus. Amin! (CS)