BANTU DAN BIMBING SAUDARAMU YANG TERSESAT

(Galatia 6:1-10)

Salah satu bukti bahwa kita menjalankan Firman TUHAN adalah kita saling memperhatikan satu-sama lain sebagai sesama anggota keluarga kerajaan Allah. TUHAN mengingatkan melalui rasul Paulus dalam teks yang kita baca minggu ini, bahwa bentu perhatian itu bukan hanya secara fisik, misalnya membantu saudara kita saat dia sakit atau kesulitan secara keuangan, namun juga -terlebih- secara rohani.  Menjelang kedatangan Kristus kedua kali yang sudah sangat amat dekat, maka kita menghadapi kehidupan yang penuh tantangan.  Salah satu tantangan itu adalah kemungkinan terjadinya pelanggaran Firman TUHAN oleh saudara kita.  Mungkin juga tidak sampai pada tahap dia berbuat dosa, namun ada suatu pandangan yang tidak Alkitabiah yang ia temukan atau bahkan mungkin sudah ia percayai.  Ketika berhadapan dengan hal ini, tentu kita sebagai saudara rohani-nya harus menolong agar ia tidak terombang-ambing pada ajaran non-alkitabiah.

            Bagaimana caranya?

1.      Membimbing saudara kita kembali kepada kebenaran Firman TUHAN.

Ada beberapa kemungkinan mengapa seorang percaya bisa terombang-ambing-kan oleh pandangan yang tidak sesuai Firman TUHAN, antara lain:

a.      Adat-istiadat yang sudah begitu mengakar pada masa lalunya sehingga sulit untuk menerima kenyataan bahwa tidak semua nilai kebudayaan itu alkitabiah.

b.      Pandangan free-thinkers yang cenderung menyatakan semua pandangan manusia adalah sah-sah saja, bahkan menjadikan segala sesuatu relatif.

c.       Ajaran-ajaran yang diklaim sebagai "kristen" namun sudah melenceng dari doktrin-doktrin dasar kekristenan.

d.      Membaca dan percaya pada tulisan-tulisan yang diklaim sebagai "teks kuno" (misal: surat Barnabas) yang sebenarnya sudah dinyatakan oleh gereja beribu tahun lalu sebagai non-alkitabiah.

e.      Melakukan dosa namun ingin mencari alasan pembenaran.

Galatia 6:1 jelas berkata bahwa kita hendaknya memimpin orang tersebut kembali ke jalan yang benar.  Apa itu "yang benar"?  Tidak lain adalah Alkitab!  Ketika seseorang berusaha untuk berargumentasi mengenai sesuatu yang tidak alkitabiah maka adalah penting untuk kita menunjukkan apa yang alkitab mengenai hal tersebut.  Misal: seseorang sangat percaya bahwa tidak mungkin TUHAN yang begitu mengasihi akan membiarkan ada orang ke neraka.  Itu adalah pandangan yang keliru mengenai karakter TUHAN.  Kita perlu juga menjelaskan bahwa betul bahwa TUHAN adalah kasih, tetapi Ia juga adalah adil.   Sesuatu yang terdengar atau terlihat "benar" belum tentu betul menurut Alkitab.

Ayat yang sama juga mengingatkan kita agar tidak terpengaruh ("jangan kena pencobaan")  pada argumentasi seseorang yang melakukan pelanggaran Firman TUHAN.  Kerap kali ketika seorang percaya melanggar Firman TUHAN, ia akan berusaha untuk mengajukan argumentasi sedemikian rupa, bahkan mungkin mengutip ayat-ayat alkitab secara serampangan, dengan maksud untuk membela dan membenarkan dirinya sendiri.  Bahkan argumentasinya mungkin dibungkus dengan status sosial, jabatan atau kekayaan (Galatia 6:3). Disini TUHAN melalui Paulus mengingatkan kita agar jangan sampai kita terjebak pada hal tersebut. Kita harus tetap teguh kepada kebenaran Firman TUHAN. Namun jangan malah jadi kita tidak mau menolong mereka yang "tersesat" karena takut jatuh dalam pencobaan (jadi setuju dengan pendapat salah mereka).  Itu adalah alasan yang salah, yang justru membuat kita tidak membantu saudara kita. Firman mengatakan kuncinya adalah kita menjaga diri kita.

2.      Pergunakan pemahaman Firman dan pengalaman perjalanan hidup bersama TUHAN sebagai modal untuk membantu saudara kita yang "tersesat".

Dalam Galatia 6:6 TUHAN meminta agar kita untuk membantu saudara kita dengan menggunakan pemahaman Firman dan pengalaman perjalanan hidup bersama-Nya sebagai modal.  Semua ayat yang telah dibaca, semua khotbah yang sudah didengar, semua kelas KOM yang sudah diikuti, semua bahan sharing supplement COOL yang sudah dibahas, semua kesaksian dan semua aspek perjalanan hidup rohani kita, adalah modal-modal yang sangat berharga yang TUHAN berikan kepada kita.  Semua itu bukan hanya untuk kebaikan dan pertumbuhan rohani kita semata, tetapi juga agar kita mampu untuk menolong saudara-saudara kita yang membutuhkan bimbingan rohani.  Kita perlu mengingatkan saudara-saudara kita yang sedang "menjauh" agar mereka tidak kembali kepada kehidupan lama mereka, termasuk cara-cara pandang yang tidak alkitabiah (Galatia 6:8).  Kita perlu mengingatkan bahwa setiap orang pada akhirnya bertanggung-jawab masing-masing atas gaya hidup dan keputusan yang diambilnya (Galatia 6:7).  Itulah sebabnya dikatakan, selagi ada kesempatan baiklah kita menolong saudara-saudara kita yang seiman yang sedang tersesat atau melakukan pelanggaran (lihat hubungan erat dari Galatia 6:1 dengan 6:10).

            Biarlah ketika Kristus datang untuk kedua kalinya, kita yang saudara-bersaudara ditemukan hidup memenuhi apa yang Ia kehendaki (Galatia 6:3). (CS)